siang tadi, saya berperan sebagai tukang ojeg. mengantar teman menyerahkan pekerjaan klien kami di wisma bakrie, kuningan. karena saya benar-benar mirip tukang ojeg (berjaket merah, celana jeans, kaos, dan sandal japit warna coklat) saya tidak ikut naik ke lantai 10. saya memilih nunggu di tempat parkir, menunggui motor kami (belakangan saya menyesal, karena ternyata teman saya kelamaan di sana.. sementara kali ini saya semakin mirip tukang parkir yang sedang menunggui deretan motor).
tidak ada yang aneh di tempat parkir tak resmi itu. warung nasi padang, gerobak bakso, kedai burger kaki lima, suara bising blender tukang jus, orang hilir mudik, makan, ngobrol, mau istirahat, ramai seperti pasar. mereka yang berseliweran rata-rata berbusana rapi, licin, dan necis dengan model baju model perkantoran terkini. “orang stap” (bahasa laskar pelangi) semua kah mereka?
ternyata bukan. sebagian banyak dari mereka yang berbaju dan busana elok tadi terlihat membawa secuil kertas, menenteng kresek, dan keluar masuk warung ke warung. setiap habis menerima bungkusan dari warung, ada yang dicontreng di kertas yang dibawanya tadi.
ternyata aku dapat jawabannya. mereka adalah para dayang-dayang kantor yang tinggi itu. biasanya disuruh beli jus, makan siang, atau sekadar disuruh bikinin minum ketika ada tamu.
tapi sungguh-sungguh, cara mereka berbusana intelek sekali. lebih intelek dari saya yang lebih mirip tukan ojek. dan sekarang tukang parkir.
Komentar Terakhir