Melihat foto Pak Zaenal Ma’arif di “detik” baru saja, seperti melihat ironi sebuah keruntuhan karier politik seseorang. Pak Zaenal yang dulu begitu gagah, dengan karier politik bak roket yang melesat (Pertama kali menduduki empuknya kursi DPR (2004 – 2009), ia langsung jadi wakil ketua) itu, akhirnya ia terpeleset juga. Seperti orang terpeleset kulit pisang di dapur, ia selip, terhuyung-huyung, gelagapan cari pegangan, mecahin gelas, dan akhirnya gedebuk jatuh berdebam.
Pertama mungkin karena poligami. Kedua karena reaksinya yang sangat hebat ketika “dipecat” dari DPR dengan nantangin SBY.
Sebuah kemampuan komunikasi hebat yang ditunjukkan oleh potisi kita, selain pandai pidato saat kampanye, juga jagoan lempar fitnah secara meyakinkan.
Dan baru saja, prihatin sekali melihat foto bapak satu ini. Entah untuk apa, setelah sidang di Pengadilan Jakarta Pusat (5/12) ia mengangkat tangan. Dulu memang iya, menunjukkan semangat perlawanan karena ia merasa didzalimi saat dilengserkan dari kursi wueenak DPR.
Mungkin sekarang pun ia berusaha untuk itu, menunjukkan dirinya tetap bersemangat meskipun bukan lagi pejabat. Tapi apa boleh buat, badannya yang terlihat semakin kurus, air muka yang kuyu, mata yang tak tajam lagi itu tak mendukung pose semangatnya itu. Kasian deh lu.
sayang .., foto itu tidak bisa saya kutip di sini, kecuali harus membayar ke “detik” Rp 250 rb.
Komentar Terakhir