Masih menyambung soal Pak Zaenal Ma’arif. Jadi ingin mengingat-ingat, kenapa ia begitu hancur dalam arti kiasan maupun sesungguhnya. Ternyata dari segala sejak dari ia dikeluarkan dari DPR, melakukan perlawanan pribadi yang tidak simpatik, sampai nantangin SBY, ada satu moment yang sungguh membuatnya terlumat oleh gelombang angin balik kesialan. Yaitu moment ketika ia dengan sangat sok transparan mengundang wartawan hanya untuk mendengarkan dia ngoceh tentang SBY.
Ia memang sempat berusaha menyangkal dengan bilang, “”Saya tidak pernah mengeluarkan tuduhan apapun terhadap Presiden. Tolong tunjukkan kalimat dari saya yang menuduh kalau SBY sudah punya istri sebelum masuk Akmil,” katanya (dikutip dari Surya, 30/7).
Tapi fatality-nya, rupanya ia pura-pura lupa (atau memang lupa?) kalau ia bercuap-cuap tepat ketika kamera dalam posisi “on”, baik kamera televisi maupun kamera wartawan foto persis ketika ia kurang lebih bilang “Saya tahu, SBY juga pernah menikah lagi sebelum masuk AKABRI dan menikah dengan Bu Ani”.
Sialnya, televisi tega untuk menyiarkan Pak Zaenal yang sedang kalap itu. Karena sedang kalap, amunisi yang ia coba dar der dor-kan sebagai bentuk bela diri kelas tinggi rupanya belum berhenti, ia pun coba menembak Jenderal R. Hartnono dengan menyebut sumber terpercaya kabar angin itu adalah Hartono. Duh, tamatlah riwayatmu, Nal.
Yang “membunuh” Pak Zaenal itu sebenarnya bukan SBY, atau kompeni-nya Pak Hartono. Tapi media. Itu juga salahnya sendiri, emosi kok ga kira-kira, kayak artis yang mau cerai saja curhat di depan kamera infotainment saja … Gak penting!
Hhh, media itu kejam bos.
Komentar Terakhir