Oleh: ajisoka | Desember 3, 2007

bermain atau bekerja?

Kecenderungan berkerja dan bisnis sekarang ini banyak yang dibawa ke tempat main. Orang mengenal istilah “entertain” untuk menjamu klien, lobi, atau membahas kontrak sebuah proyek. Bisa macam-macam bentuk “entertain”, mulai dari yang alakadarnya sampai apa aja diadakan.

Di Banda Aceh, warung-warung kopi menjadi tempat favorit mulai dari wartawan sampai Gubernur bergosip mengenai isu panas dan proyek-proyek bawah tangan di wilayah itu, di Yogya lobi bisa dilakukan sambil ngleseh di warung sepanjang malioboro hingga alun-alun keraton, di Jakarta biasanya di kafe-kafe sampai panti pijat, semua menjadi informal untuk urusan yang sebenarnya formal dan penting. Mulai dari yang terlihat betul salah satu meng-entertain yang lain sampai saling entertain, dua-duanya mendapat kenyamanan, memiliki kesamaan hobi dan kesamaan minat akan obrolan. Semua masalah serius diselesaikan dengan (seolah-olah) tidak serius.

Ini seperti anak-anak usia sekolah yang perlu suasana bermain ketika belajar, ternyata orang gede pun perlu suasana bermain ketika bekerja.

Teorinya persis: lebih mudah memasukan muatan pelajaran ketika bermain dari pada sebaliknya. Lebih cair menyelesaikan urusan kerjaan ketika bermain dari pada sebaliknya.

Kelihatannya sepele, tapi ternyata itu sangat membantu dalam berkomunikasi, karena lebih enak membawa masalah pekerjaan ketika sedang bermain. Kita bisa dapat dua, bermain sambil menyelsaikan pekerjaan. Tapi kalau kita membawa permainan ke pekerjaan, maka pekerjaan kita tidak akan selesai dan mainnya pun tidak puas … hehe



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.